Sabtu, 20 Desember 2008

KUNCI KECERDASAN EMOSI


Kecerdasan merupakan ciri keunggullan manusia dalam memahami ,

memutuskan dan mengantisipasi. Kecerdaasan seseorang sering tidak

dapat difahami seketika oleh orang kebanyakan , tetapi kemudian

menjadi kajian yang tak habis-habisnya setelah menjadi sejarah. Dalam

perspektip ini jarak antara orang cerdas dengan orang gila sebenarnya

sangat tipis, sehingga gagasan-gagasan orang cerdas sering dianggap

gagasan gila. Kecerdasan seseorang memungkinkannya memiliki jarak

pandang yang jauh, dua, tiga atau lebih dimensi, sementara orang

kebanyakan hanya mampu melihat satu atau maksimal dua dimensi.

Pada umumnya kecerdasan dihubungkan dengan akal (intelektuil), tetapi

kecerdasan intelektual ternyata belum menjamin ketepataan keputusan,

sehingga dewasa ini orang sudah mulai membicarakan tentang kecerdasan

yang lain, yaitu kecerdasan emosionil dan kecerdasaan spirituil.

Kecerdasan intelektuil diwujudkan dalam kemampuan berfikir. Menurut

Asfihani, fikiran adalah potensi yang dapat mengantar pengetahuan

sampai kepada obyek (quwwatun mudrikatun li al `ilmi ila al ma`lum),

sedangkan berfikir artinya menggunakan potensi itu sesuai dengan

kapasitas intelektualnya.

Dalam kehidupan, berfikir diperlukan untuk (a) memecahkan masalah

(problem solving), (b) mengambil keputusan (decision making) dan ©

melahirkan sesuatu yang baru (kreatifitas). Karena kecerdasan

merupakan keunggulan maka hal itu dapat diukur kualitasnya, antara

lain melaui metode yang digunakan (deduksi,induksi), atau dilihat

seberapa tingkat kreatifitasnya (metode berfikir kreatip). Metode

berfikir kreatip sering tidak bisa difahami orang lain, dan prosesnya

melalui tahapan-tahapan, dari (a) orientasi, (b) Preparasi, ©

Inkubasi, (d) Iluminasi dan (e) Verifikasi. Orang yang bisa berfikir

kreatip biasanya mempunyai ciri-ciri : (1) meemiliki kecerdasan

diatas rata-rata, (2) memiliki sifat terbuka dan (3) memiliki sifat

bebas, otonom dan percaya diri.

Jika kecerdasan intelektuil diwujudkan dalam berfikir, maka

kecerdasan emosi diwujudkan dalam merasa. Manusia memang makhluk yang

berfikir dan merasa. Emosi nampak dalam perubahan fisik yang

diakibatkan oleh peristiwa mental, seperti : muka merah (karena

malu), muka pucat, tubuh gemetar, terkencing (karena takut) otot

mengencang (karena marah) ,mata terpejam dan menangis (karena haru

atau gembira) dan sebagainya. Emosi adalah perubahan jasmani langsung

mengikuti persepsi mengenai kenyataan yang menggairahkan.

Dalam kehidupan, kita mengenal berbagai tipologi manusia dilihat dari

sudut ini, misalnya ada orang yang sangat pemalu disamping yang tidak

tahu malu, yang penakut, disamping yang pemberani, yang sangat perasa

disamping yang sudah mati rasa atau tidak berperasaan, yang pemarah

disamping yang penyabar. dan sebagainya. Jika kecerdasan intelektual

bisa diasah, demikian juga kecerdasan emosi dapat dirangsang.

Kecerdasan emosi ditandai dengan kemampuan pengendalian emosi ketika

menghadapi kenyataan yang menggairahkan (menyenangkan, menakutkan,

menjengkelkan, memilukan dsb). Kemampuan pengendalian emosi itulah

yang disebut sabar, atau sabar merupakan kunci kecerdasan emosional.

Adapun kecerdasan spirituil merupakan kualitas kehidupan ruhaniah

seseorang dimana seseorang dimungkinkan berkomunikasi secara

rohaniah, baik secara horizontal maupun vertikal. Memahami kecerdasan

spirituil akan mudah jika menggunakan paradigma tasauf.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar